Harsihnas diperingati setiap hari. TERIMA KASIH
RSS

Senin, 12 Desember 2011

Refleksi



Cagur Bicara

Luar Biasa!
Peran pemuda bagi kemajuan bangsa mengingatkan saya pada filsuf Jim Rohn bahwa memikirkan masalah-masalah kehidupan amat penting bila menjadi pemimpin karena hal ini mengajari untuk bertingkah laku dalam cara-cara baru. Idealnya peran pemuda adalah menjadi pemimpin, minimal menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Dalam arti bahwa mengorganisir hal yang besar, katakanlah bangsa ini, berawal dari masing-masing diri yang terorganisir. Konkritnya mudah sekali bagi orang untuk untuk menemukan masalah, mendiskusikannya, membumbuinya, lantas mengeluh dan memperkeruh suasana. Namun sulit ditemukan solusi solutif sebab obat mujarab bisa datang dari diri sendiri yang hebat. Pemuda yang tangguh senantiasa belajar dari kehidupan. Meskipun terkadang tidak menyadari bahwa yang bersangkutan adalah pemimpin karena kontribusi yang ditorehkan tanpa mengenal posisi. Semua berawal dari menyelesaikan praktik dan tugas-tugas kecil secara baik. Diikuti dengan memiliki impian besar. Ingat! Mimpi dan impian berbeda. Bukan karena redaksionalnya, namun lebih karena substansi yang terkandung. Impian akan menuntun pemuda pada pencapaian-pencapaian luar biasa yang kemungkinan besar telah lama dimimpikan namun tidak segera menjadi riil. Oleh karena itu pemuda tidak dapat berjalan sendiri bila mengharapkan perubahan besar untuk bangsanya. Bukan untuk saling mengendalikan, tetapi berkolaborasi untuk tujuan yang ingin dicapai bersama, berjuang, rencana matang, dan berani bertindak. Bahkan Ki Hadjar Dewantara pun bersabda, “ Tanah air kita meminta korban. Dari di sinilah kita siap sedia memberi korban yang sesuci-sucinya. Sungguh korban dengan ragamu sendiri adalah korban yang paling ringan. Memang awan tebal menggantung di atas kita. Tapi percayalah masih ada matahari yang bersembunyi di baliknya. Kapan hujan turun dan udara menjadi bersih karenanya?” Bukan berarti akan berakhir kematian. Tetapi memberikan sesuatu yang bisa diberikan semaksimal mungkin untuk diberikan pada bangsa. Layaknya jargon semangat matahari yang yang senantiasa memberi kehangatan tanpa perlu bertanya apakah orang-orang layak dan patut mendapat mendapat kehangatan tersebut. Pemuda juga memiliki peta agar sinar hangatnya terpancar menyeluruh namun tidak berakhir sia-sia. Meskipun pada hakikatnya tidak ada yang sia-sia dari tindakan positif.
Berkontribusi dengan ketetapan hati untuk membuat perbedaan positif, maka pemuda, adalah seorang pemimpin. Karena idealnya akan lebih mudah untuk memberi pengaruh positif pada bibit positif daripada memberi pengaruh serupa pada bibit beraliran sebaliknya. Kenyataannya memang dibutuhkan usaha ekstra. Di tempat kami dengan suguhan latar belakang kultur yang beragam, para pemuda menuntut ilmu bukan untuk membuat perubahan. Sebab perubahan ada pada para pemuda itu sendiri. Bahkan air mata yang tiap kali keluar secara berjamaah oleh kawan kawan seperjuangan tiap kali mendengar lagu-lagu kebangsaan sebagai alarm guna penanda berakhirnya aktivitas di gedung pusat kampus, aktivitas yang dilakukan seminggu sekali untuk dengan sengaja berjalan kaki mendekati sumber suara yang jauh dari kelas massif dari fakultas berasal, belum cukup untuk bangsa ini. Karakter bangsa yang digadang-gadang hampir pada tiap simposium sampai kelas rumput sebagai upaya penyadaran kolektif, berdoa untuk tidak sekedar jatuh sebagai kebijakan top-down semata. Bahkan bila diperlukan, jargon untuk menjinakkan macan, jadilah macan, harus direalisasikan. Meskipun masing-masing manusia yang dianugerahi bermacam keunikan pola pikir akan menyumbangkan pendekatan berbeda pula demi kemajuan bangsa. Posisi tidak mutlak diperlukan. Kesadaran bukan generasi yang berasal dari kualitas terbaik namun tetap akan berupaya memberikan yang terbaik untuk meningkatkan kualitas, memberikan ilham tersendiri bahwa masing-masing pemuda memiliki cara masing-masing. Dengan tidak murtad dari disiplin ilmu dan dan impian besar untuk menjadi guru, sebagai pengajar yang mendidik, merupakan langkah awal kontribusi di tengah persimpangan yang banyak menawarkan surga sebagai rewardnya. Metode getok tular kepribadian positif patut dilestarikan dengan memberikan pengaruh positif pula pada lingkungan sekitar. Membuat orang lain mengikuti baik secra terbuka maupun secara diam-diam karena komitmen, dan bukan disebabkan oleh rasa takut dan pola ABS, akan berdampak luar biasa pada kemajuan bangsa. Berpikir global, beraksi lokal dengan membuat orang yang sulit mengungkapkan pemikiran menjadi terbuka. Untuk selanjutnya memanusiakan manusia, membesarkan hati, mendengar, dan memberikan kepercayaan bahwa mereka juga memiliki suara. Proses efektif ini memang panjang namun berdampak besar bila justru orang-orang tersebut yang nantinya merupakan kader-kader handal untuk menularkan hal positif serupa secara tepat sasaran. Karena sesungguhnya inspirasi tidak datang semata dari jabatan, tetapi justru dari pemuda yang bersangkutan. Tidak mengherankan bila para pejuang bisa muncul dipupuk pendidik yang berkarakter kebangsaan seperti Julian Balia (Sang Pemimpi), kutipan yang selalu menginspirasi, “Para pelopor, sebelum kita tutup kelas hari ini, pekikkan kata-kata yang memberimu inspirasi!”.

8 komentar:

Nur Ngaenah mengatakan...

maaf mba, ini sumbernya dari mana ya???

Percikan Sosiologi dan Antropologi mengatakan...

luar biasa sekali, ditunggu tulisan tulisan selanjutnya....semangat cha

noni sekar kinasih mengatakan...

di tunggu artikel berikutnya yang semakin menarik..

pahlevi mengatakan...

Nur ngaenah: itu curahannya dia...
Chacha: Mudah-mudahan kau berubah...

Charisma mengatakan...

Nur Ngaenah : artikel ini muncul berdasarkan perjalanan penulis menelusuri sendi-sendi terkecil dari tiap sudut kampus sebagai miniatur masyarakat untuk dikorelasikan dengan yang sebenarnya ada di lapangan.
Beberapa 'quote' yang dijadikan sebagai landasan penguat pernyataan penulis sadur dari referensi-referensi yang dibaca.
Tapi artikel ini berformat artikel bebas sehingga tidak dicantumkan sumber resmi seperti penulisan dalam format artikel ilmiah.
Percikan Sosiologi dan Antropologi : Terima kasih. Ditunggu juga kritik dan saran untuk perbaikan ke depannya. Semangat juga percikan ^^
Noni Sekar Kinasih : Terima kasih saudara Noni. Dimohon saran dan kritik untuk perbaikan ke depannya.
Pahlevi : Meskipun artikel ini masuk ke dalam kategori umum, namun bukan berarti masuk ke dalam curahan pribadi. Artikel ini murni penulis kemukakan sebagai pengejawantahan dari bentuk apresiasi dari pahlawan-pahlawan yang berkontribusi dengan ketetapan hati tanpa pengenalan posisi. Karena konsep 'cagur' yang menjadi tema besar dari artikel ini tidak hanya berfokus pada calon guru dalam kelas dalam lingkup sekolah formal. Melainkan juga didedikasikan untuk calon-calon pemimpin dalam seluruh lini kehidupan yang dapat digugu lan ditiru (dianut dan ditiru ;red).
Terima kasih atas masukan yang telah diberikan. Mari berubah ke arah lebih baik.

katamila mengatakan...

wah! foto Q mampang... hehehe!

ini menyadarkan saya bahwa saya juga termasuk calon guru.

sungguh takjub saat saya menonton film 'sang pemimpi'julian balia begitu mengesankan, sangat jarang ditemui di jaman sekarang sosok guru seperti dia.

Charisma mengatakan...

Katamila : wah, benar sekali!
Bila beliau saja dengan segala keterbatasan seperti yang digambarkan dalam film tersebut bisa, kenapa bin mengapa kita tidak?
Jalan masing-masing yang akan dilalui meskipun tujuan sama sudah dapat dipastikan tidak akan selalu sama. Sudah barang tentu pencapaian yang didapat juga akan berbeda. Sehingga apapun profesi kita, jalani dengan sepenuh hati.
Senang rasanya mengenal sosok seperti Anda.

Tika Chu mengatakan...

apakah anda termasuk cagur sejati????

Posting Komentar